Lombok Tengah – Hujan deras
disertai angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Lombok Tengah sejak senin
malam 23 Februari hingga selasa 24 Februari 2026 mengakibatkan tida Kecamatan dilanda banjir.
Badan Penanggulangan Bencana
Daerah mencatat tiga kecamatan yang dilanda banjir yakni Pujut, Praya Timur
serta Praya Barat daya dan menyebabkan sebanyak 1.507 kepala keluarga
terdampak.
Kepala Pelaksana Badan
Penanggulangan Bencana Daerah, Ridwan Ma’ruf mengatakan tingginya intensitas
hujan menjadi penyebab utama pemicu terjadinya banjir di tiga Kecamatan.
“Dari tiga kecamatan jumlah
terdampak dalam 24 jam terakhir mencapai sekitar 1.057 KK dengan jumlah
terbanyak berada di Kecamatan Praya Timur hingga sembilan desa,” katanya.
Berdasarkan data yang dihimpun
tim di lapangan warga terdampak antara lain. Di Kecamatan Pujut wilayah
terdampak meliputi Desa Kuta dengan 167 KK, Desa Pengembur 64 KK, Desa Bangket
Parak 450 KK.
Selanjutnya, Kecamatan Praya
Barat Desa Tanak Rarang 64 KK. Sementara di Kecamatan Praya Timur, desa yang
terdampak meliputi Desa Landah, Desa Ganti, Desa Semoyang, Desa Bilelando 234
KK data gabungan terdampak, Desa Mujur, Desa Beleka Lebe Sane 150 KK terdampak,
Desa Beleka Daye 50 KK, bahkan Desa Ganti 286 KK terdampak
“Selain banjir, angin puting
beliung terjadi di Kecamatan Batukliang Utara tepatnya di Desa Seteling 1 KK
terdampak, Kelurahan Praya 1 KK, dan Desa Kuta mengakibatkan satu unit toko
terdampak. Banjir dan puting beliung, ada tanah longsor juga terjadi di Desa
Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat,” jelasnya.
Berdasarkan jumlah warga yang
terdampak, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah resmi menetapkan status tanggap
darurat bencana karena luasnya wilayah terdampak serta meningkatnya jumlah
warga yang terkena dampak banjir.
“Status tanggap darurat ini
ditetapkan karena adanya kejadian nyata di lapangan yang harus segera
ditangani. Dampak kali ini juga lebih luas dibandingkan periode sebelumnya,” tambahnya.
Ia menyebutkan, dampak cuaca
ekstrem pada periode 23–25 Februari 2026 dinilai lebih parah dibandingkan
bencana yang terjadi pada 14 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026. (Man)

0Komentar