Lombok Timur – Semarak perayaan Hari raya Idul Adha setiap tahun, menjadi magnet bagi masyarakat untuk merekat silaturahmi dan kebersamaan di daerah. Salah satunya di desa Bernama Kelayu Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur.
Tak hanya menggelar salat idul Adha yang diikuti ribuan warga, suasana perayaan idul adha juga diramaikan
dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban secara massal yang menjadi
tradisi yang terus dilestarikan sepanjang tahun.
Pada tahun ini, penyembelihan
hewan kurban memasuki tahun ke-26 dengan jumlah hewan kurban yang mencapai
puluhan ekor. Seluruhnya merupakan sumbangsih masyarakat desa kelayu, sebagai
simbol sukacita merayakan lebaran di kampung halaman, sekaligus untuk merajut
silaturahmi antarwarga.
Ketua Panitia Ibadah Kurban
Masjid Al-Umary, Muhammmad Yani, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme warga
dan para mudhohi (orang yang berkurban) yang mempercayakan ibadahnya melalui
panitia masjid.
"Alhamdulillah, tahun ini
Masjid Al-Umary kembali menyembelih 40 hewan kurban sapi yang terkumpul dari
masyarakat secara swadaya. Ini menjadi bukti nyata bahwa semangat berbagi dan
kepedulian sosial di Kelayu masih sangat tinggi," ujarnya di sela-sela
acara kurban (27/05).
Smenetara itu, panitia mencatat
jumlah mustahiq (penerima daging kurban) mencapai 3.543 orang yang terdiri dari
warga Kelayu Selatan mencapai 2.053 orang, dan warga Kelayu Utara 1.490 orang.
Adapun jumlah pengurban mencapai 280 orang yang merupakan warga masyarakat desa
yang mukim di desa Kelayu dan juga berada di luar daerah.
“Memasuki tahun ke-26 tahun
pelaksanaan kurban, alhamdulillah kita tetap mampu mempertahankan tradisi ini,
sebagai simbol kebersamaan dan jiwa gotong royong yang terus dirawat yang
diwariskan para pendahulu,” terangnya.
Sementara itu, salah seorang
warga Kelayu asal Mataram yang berkurban, Ema mengaku sengaja memilih ikut
berpartisipasi dalam kurban massal karena tertarik dengan semangat gotong
royong yang terus dilestarikan selama puluhan tahun.
Ia berharap tradisi berkurban
akan terus ada, sebagai bukti perekat jiwa kebersamaan dan gotong-royong yang
masih terpelihara di antara masyarakat desa.
“Acara berkurbannya keren, disini
selalu terbanyak setiap tahun, semoga terus ada dan lestari,” pungkasnya.
Berkurban Melatih Solidritas
dan Menjaga Warisan Luhur TGH Umar Kelayu
Bagi masyarakat Kelayu, kegiatan
di masjid ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan upaya merawat warisan
luhur sang perintis serta mengenang perjuangan ulama besar kharismatik
Nusantara, Tuan Guru Umar Kelayu (Datok
Umar), yang dikenal sebagai guru dari para tuan guru di tanah Sasak sekaligus
poros ulama Makkah-Nusantara pada masanya.
Nama besar "Al-Umary"
yang disematkan pada masjid ini menjadi pengingat abadi bagi warga akan sanad
keilmuan, keluhuran budi, dan semangat pengabdian umat yang diajarkan oleh
beliau.
"Melaksanakan ibadah kurban
dan bergotong royong di masjid ini memiliki ikatan emosional dan spiritual yang
kuat bagi kami. Ini adalah tempat ibadah yang dirintis oleh Datok Umar sebagai
simbol persatuan umat,” kata M. Saleh salah seorang warga Kelayu yang turut
hadir menyaksikan pemotongan hewan kurban.
Selama ini masjid Al-umary
dikenal sebagai sentra kegiatan ibadah sekaligus sosial yang berhasil
mempersatukan masyarakat tanpa memandang golongan, atau organisasi
kemasyarakatan, melalui semangat yang dirintis oleh Tuan Guru umar sebagai
leluhur masyarakat Desa Kelayu.
“Ini adalah cara kami merawat
kebersamaan, kekompakan, dan menghormati sejarah besar beliau sebagai tokoh
agama yang disegani," tutupnya. (Red)

0Komentar