![]() |
| Pelaksanaan Posyandu untuk pencegahan Stunting |
Lombok Tengah – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah mencatat angka kasus stunting mengalami penurunan. Berdasarkan data per April 2026, kasus stunting di Gumi Tastura turun hingga 9,81 persen.
Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah
mengatakan penuruna angka stunting tidak lepas dari sinergi Puskesmas dengan
tenaga Kesehatan, pemberian obat serta pemberian makanan tambahan, dan para pemangku
kebijakan.
“Alhamdulillah di tahun 2026 ini
kita sudah di angka 9,81 persen. Itu penurunan angka Stunting di Lombok Tengah
ini,” katanya.
Ia menjelaskan, Pemda Loteng selalu
mengadakan Rembug Stunting untuk menghimpung dan melakukan evaluasi penangan
dan pencegahan stunting mulai dari tinggak desa hingga kecamatan.
“Nantinya hasil rembug di Tingkat
kecamatan akan kita himpun tingkat Kabupaten untuk dijadikan kebijakan dalam
menuntaskan Stunting,” jelasnya.
Berdasarkan laporan camat, fokus
penanganan saat ini diarahkan pada perbaikan sarana dan prasarana pendukung. Di
antaranya penyediaan alat timbang akurat di Posyandu, validasi data, serta
pembukaan kelas khusus bagi ibu hamil guna memastikan kecukupan gizi sejak masa
kehamilan.
“Pentingnya sinkronisasi program
lintas sektor. Program pengentasan kemiskinan di Dinas Sosial, misalnya, harus
terhubung langsung dengan target penurunan stunting agar anggaran tepat sasaran,”
imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah Mamang Bagiansah mengatakan, meski mengalami
penurunan, namun masih ada beberapa kecamatan yang angka stuntingnya masih
tinggi.
“Jadi kasus stunting yang tinggi
itu ada di 5 Kecamatan yakni Kopang, Batukliang, Janapria, Pringgarata dan
Jonggat,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan stunting di wilayah tersebut tidak
sepenuhnya dipengaruhi faktor ekonomi, melainkan pola asuh dan pemberian
makanan pada anak.
“Banyak rumah warga ini ternyata
sangat layak huni, tapi anaknya tetap stunting. Jadi masalah utamanya kembali
lagi ke pola asuh, pola makan, dan perilaku,” tandasnya.(Man)

0Komentar